5 Januari 2012

DAKWAH SUNNAH, DENGAN PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH.
AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”

(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam kabir, 20/174/386/486-487, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 4544)

5 Januari 2012

✿•.❀¸.•❤•.❀.❀❀. •❤•.¸✿ ✿¸.•❤.

❀✿ Jadilah Mukmin Yang Kuat ✿❀

✿.❀¸.•❤•.❀ .❀❀.•❤•.¸✿ ✿¸.•❤.

Assallamu’alaik um Warahmatullah Wabarakatuh.

Bismillahirrahm anirrahiim..

Sebagaimana kita maklumi bersama bahwa kebaikan dunia meliputi seluruh kebaikan yang ada didalamnya,term asuk ketaatan,rezeki ,kesehatan, shalat,ibadah, dijauhkan dari kesengsaraan dan celaka dunia.Kebaikan akhirat meliputi segala kebaikan yang ada didalamnya, termasuk Surga, naungan di hari akhirat dan perlindungan siksaan dari api neraka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Islam menganjurkan dan mengajarkan kita umatnya,bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketimbang mukmin yang lemah. Kuat bisa diartikan secara luas dan bermacam-macam, kuat iman,kuat ibadah,kuat menahan amarah,kuat sabar,kuat ekonomi,kuat jasmani,dan lain-lain. Kuat secara sendiri-sendiri maupun kuat secara bersama-sama.Ke kuatan yang ada dalam diri seorang mukmin semua diperuntukkan semata-mata untuk beribadah dan untuk kepentingan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu’Berkata bahwa’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih di cintai ALLAH, dari pada mukmin yang lemah,dan pada masing-masing mempunyai kebaikan. Jagalah apa yang bisa memberimu manfaat, dan janganlah lemah. Jika sesuatu menimpamu janganlah mengatakan”Sean dainya aku berbuat demikian pasti demikian,” Tapi katakanlah’ ALLAH telah mentaqdirkan-Ny a apa yang dikehendaki-Nya akan tejadi,Karena sesungguhnya kata-kata “Seandainya” adalah membuka celah untuk pekerjaan syaithan.” (HR. Muslim).

Hadist shahih diatas sangat jelas diterangkan bahwa setiap orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.Demikian juga ketika seorang mukmin didera musibah dan cobaan dari segala hal, tidaklah mengatakan seadainya berbuat begini maka harus demikian,tapi justru mengatakan bahwa seorang mukmin belum mencapai hakikat iman, sebelum ia meyakini bahwa apa yang menimpanya sudah tertulis dan sudah ditaqdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan apa yang bukan taqdir-Nya tak akan menimpanya.

Keyakinan dan keteguhan tersebut akan melahirkan dan menjadikan hidup tenang,ridha penuh ikhlas menerima kenyataan hidup,dan senantiasa berharap dan memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadist Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, diatas mejadi pedoman dan dorongan buat kita kaum muslimin, untuk senantiasa optimis dalam bekerja, serta tabah dalam mengahadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam perjalanan kehidupan. Hadits ini mengandung tiga macam dorongan dan optimisme dan dua macam larangan yaitu :

a.Pertama memaknai iman sebagai pusat kebahagiaan, di dunia dan di akhirat manakalah diikuti dengan amal shaleh.Tdak bisa dipungkiri bahwa tingkat keimanan ini pada setiap muslim berbeda-beda, ada yang kuat dan terkadang ada yang turun naik dan lemah.

Muslim yang kuat imannya sangat terdorong, dan selalu bersemangat mengerjakan amal shaleh sebanyak-banyak nya.Tidak ada rasa takut terhadap berbagai rintangan,dalam mengajak kebaikan, sabar dalam melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala,serta taat menjauhi larangan-Nya.

Namun muslim yang lemah imannya selalu cendrung lalai dan lengah beramal shaleh.Apa yang dikerjakan oleh masing-masingny a semua mengandung kebaikan, namun muslim yang kuat imannya selalu menyuburkan imannya dengan amal shaleh sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat mencintai-Nya.

b.Makna kedua memberi dorongan kepada kita, bahwa setiap muslim jangan sampai melalaikan dan mengosongkan waktu,sehingga waktu itu berjalan tanpa meninggalkan bekas kecuali ketuaan belaka. Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam’Menganju rkan kita mengisi waktu dengan kegiatan, yang membawa manfaat baik bermanfaat didunia terlebih membawa manfaat di akhirat kelak. Memanfaatkan waktu bisa diisi dengan kegiatan mencari ilmu,harta yang halal,menyantun i anak yatim piatu,tadarus Al Quran dll.

c. Makna ketiga memberi dorongan kepada kita, bahwa dalam menghadapi segala usaha dan rencana hendaklah memohon pertolongan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena yang menentukan dan memutuskan segala sesuatu itu,semua atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala :

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“Dan Rabb-Mu Berfirman” Berdoalah kepada-KU,Nisca ya AKU perkenankan doamu itu”(Q.S. Al Mukmin : 60).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :

“Apabila kamu minta pertolongan, Maka mintalah pertolongan kepada ALLAH. Dan ketahuilah seadainya suatu ummat berkumpul untuk mencari manfaat bagimu, niscaya mereka tidak dapat memberi manfaat kecuali yang dicatat oleh ALLAH untukmu, dan seadainya suatu ummat berkumpul untuk menimpakan suatu madlarat bagimu, nisaya mereka tidak akan dapat menimpakan suatu madlarat kepadamu kecuali apa yang telah ALLAH catat atasmu.”.(HR. At Tirmidzi)

d. Makna keempat, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang kita lemah dalam mencapai cita-cita, namun harus optimis dalam berusaha disertai dengan penuh keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar apa yang dicita-citakan tercapai.

e. Makna yang kelima kandungan Hadist shahih diatas, apabila kita ditimpa suatu hal yang tidak menyenangkan dan tidak berkenan dalam diri kita, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang kita untuk mengucapkan kata (seadainya atau mengandai), karena kata-kata semacam ini akan memberi peluang dan membuka pintu pekerjaan syaithan.

Terlebih kata-kata ini seolah-olah kita dapat menghindarkan diri dari ketentuan dan taqdir dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu kita harus mengatakan dengan penuh keimanan bahwa apa yang menimpa sesungguhnya sudah tertulis dan sudah ditaqdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan apa yang bukan taqdir-Nya tak akan menimpanya.Meya kini bahwa rentetan kejadian bencana atau musibah telah digariskan dan tersusun dalam rencana Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala,berfirma n..

“Tiada suatu Musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami (ALLAH) menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi ALLAH”.(Q.S. Al Hadid : 2)

Untuk mengahadapi sesuatu yang akan datang, tentunya kita harus merpersiapkan sepenuhnya, dan hendaklah mengambil Ibrah (pelajaran) dari apa yang kita alami pada waktu yang telah dilalui, jangan sampai kita terperosok dua kali dalam satu lobang masalah yang sama.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,Bersabda :

“Seorang muslim yang ditimpa oleh keresahan dan kesusahan,oleh keletihan dan kesakitan,oleh kesedihan dan gangguan, sekalipun gangguan itu hanya berupa duri yang mengenainya,mak a ALLAH menghapuskan dengannya kesalahan-kesal ahannya”.(H.R. Bukhari).

Dari keseluruhan uraian diatas, menganjurkan kita agar setiap muslim senantiasa meningkatkan keimanan setiap saat ,tidak berhenti berusaha, selalu iktiar maksimal dalam amar maruf nahi mungkar,sabar dalam segala hal dan menyandarkan harapan atau cita-cita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, . Mudah-mudahan manfaat buat kita semua,yang benar haq semua datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,Yang kurang dan khilaf mohon sangat dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr “.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menunjukkan kita pada sesuatu yang di Ridhai dan di Cintai-Nya..Aam iin Allahuma AAmiin…

Catatan oleh : Kak Abdul Haris Muenthazzar

❀.•❤•Walhamduli llah Rabbil’alamin •❤•.❀

❀❀Ukhti,,Akhi.. Sahabat Ukhuwah fillah ALL ❀❀.

Dalam album ini ada beberapa foto dengan catatan yang sama , Silahkan di Tag/ Share….Semua untuk Umat dan Syiar Islam, Silahkan saling bantu Tag sahabat-sahabat yang lain, Kunjungi page kami dan klik”Like/Suka”untuk Bergabung. ❀ Jazzakumullahu khayran wa Barakallahu fiikum. ❀

❀SaLaM SantuN Erat SiLatuRahmi dan UkhuWaH FillaH✿

✿¸.•❤•.❀ ✿¸.•❤•❤•.❀❀.•❤• .¸✿

Agar Hati Menjadi Tenang.

31 Desember 2011

Bismillah

Assalamu’alaikum warrohmatulahi wabarokhatuh.

Sebelumnya aku mohon maaf ini hanya catatan pribadi unt mengingatkan aku khususnya pengetik dan bagi pembaca semua yg sempat baca pada umumnya.

Memiliki kehidupan yg tenang dan tentram selalu menjadi idaman dan salah satu tujuan yg ingin dicapai setiap org.

Hidup yg tenang dan tentram adl dambaan dan muara dari perjuangan hidup umat manusia di dunia ini.

Kita pasti pernah merasakan bingung resah dan gelisah.

Bingung memilih jalan hidup, bingung memilih pasangan hidup, bingung usaha, bingung cari kerja, bingung cari kesehatan, bahkan tidak sedikit dari kita yg pernah merasakan bingung mau ngapain.
Hee ….he he…. ^_^”

Dlm kondisi dimana seseorg sedang bingung resah atau gelisah, sedih, berduka, iri, dengki, sakit hati,patah hati, senang, gembira, dan berbagai perasaan hati yg lain, baik yg positif maupun negatif pd dasarnya di sebabkan lebih karena kondisi atau perasaan hati serta jiwa seseorg dan akibatnya akan kita jumpai banyak orang yg stress,gila, strok, serangan jantung disebabkan oleh hal hal yg demikian baik secara langsung maupun tdk langsung.

Banyak org menyimpulkan bahwa beban hidup yg berat dan kondisi lingkungan yg tdk mendukung seringkali menjadi alasan dibalik semua itu.

Serupa tapi tak sama Alquran menjelaskan tentang bagaimana mengatasi hal tersebut melalui pendekatan yg lebih mendlm dan lebih berorientasi pd pencegahan sekaligus pengobatan.

Firman Allah
Ingatlah, hanya dgn mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(QS Ar Ra’d:28)

Dzikir (mengingat Allah) seringkali di konotasikan dgn kegiatan mengamalkan wirid atau mengucapkan kata” pujian, duduk berjam-jam dlm kamar atau berdiam di dlm masjid atau tempat sepi lalu wirid ini dan itu, mulut komat kamit memutar tasbih sembari menghitung jumlah bilangan tertentu.

Mungkin ada diantara saudaraku umat islam yg pernah menjalankan Dzikir unt mencari ketentraman lahir dan batin, Entah itu dilalui dgn sukses, gagal atau bahkan tak berbekas sama sekali.

Bagi mereka yg merasakan manfaat dizikir, insya allah mereka akan tetap istiqomah menjalankan amal ibadah tsb.

Namun bagi mereka yg gagal dan tetap pada posisi selalu merasa bingung resah dan gelisah,
bukan tdk mungkin mereka akan terjerumus kedlm jurang yg lebih dlm.

Dlm kondisi / keadaan yg seperti ini, bukanlah dzikir atau amalan ibadah mereka tdk diterima atau tdk berhasil akan tetapi penerapan dan tata cara serta pengamalan dzikir yg kurang lengkap bisa jadi membuat mereka tetap dlm keadaan bingung resah dan gelisah.

Lantas bagaimana perwujudan atau pelaksanaan dari mengingat allah dlm Alquran …
twing….
twing…….
twi……….ng????????????

=>Bentuk Amalan Dizkir dlm alquran yg Pertama seperti dijelaskan dlm surah Thaahaa ayat 14 :
“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yg hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”
(QS Thaahaa:14)

Bentuk perwujudan dari Amal Ibadah dalam rangka Dzikir (mengingat Allah) adl SHALAT, baik itu shalat 5 waktu maupun shalat sunnah.

Sesibuk apapun pekerjaan yg kita dptkan atau sebesar apapun masalah yg dihadapi seseorang selagi masih senantiasa melaksanakan shalat insya allah tdk akan mengalami kebingungan, resah maupun gelisah.
Jika shalatnya dilakukan dng benar.

=>Bentuk Amalan Dizkir dlm alquran yg kedua seperti dijelaskan dlm surah Al Ahzab :41
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah
(dgn menyebut nama) Allah, dzikir yg sebanyak-banyak nya.”

Perwujudan atau bentuk amal ibadah dzikir seperti yg telah dijelaskan dlm firman Allah diatas adl dgn menyebut nama Allah, salah satu bentuk amal ibadah yg seringkali dilakukan oleh kebanyakan umat islam yakni menyebut nama Allah.

Tuntunan tata cara dan bacaan dzikir
(menyebut nama Allah) menurut alquran adl seperti yg seperti yg dijelaskan dlm surah Al Isra` (17:110)
“Katakanlah:”Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dgn nama yg mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama” yg terbaik).

Asmaa’ul husna adl nama” Allah ta’ala yg indah dan baik.
Nama” Allah adl alamat kepada Dzat yg mesti kita ibadahi dgn sebenarnya.
Tidak ada satu hal pun yg dpt disetarakan dgn Allah, Semua nilai kebenaran mutlak hanya ada (dan bergantung) pada-Nya.
Dgn demikian, Allah Yang Maha Segalanya.

Anjuran unt mengawali Do’a dgn menyebut nama Allah yg dlm hal ini adl Asmaul Khusna dijelaskan dlm surah Al A’raaf ayat 180 :
“hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka BERDO’ALAH (memohonlah) kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang” yg menyimpang dari kebenaran dlm (menyebut) nama”Nya. nanti mereka akan mendpt Balasan terhadap apa yg telah mereka kerjakan.”

Dzikir yg baik dan dianjurkan dlm alquran adl dzikir(mengingat allah) dgn menyebutkan, melafalkan”Asmaul khusna”.

=>Bentuk Amalan Dizkir dlm alquran yg ketiga adl seperti yg dijelaskan dlm
surah Ali Imran ayat 190 – 191 :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdpt tanda” bagi org” yg berakal,

“(yaitu) org yg mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dlm keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):”Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dgn sia”, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”

Dijelaskan dlm ayat 190 dlm penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda” bagi (org” yg berakal)yaitu Org” yg Mengingat Allah dlm keadaan duduk atau berbaring dan memikirkan penciptaan langit dan bumi.

Dlm ayat diatas dikatakan bahwa org” yg berakal adl org” yg senantiasa mengingat Allah baik dlm keadaan duduk atau berbaring.

secara tersirat ayat diatas menjelaskan berdzikir (mengingat allah) adl bentuk amal ibadah yg seringkali (senantiasa) dilakukan oleh org” yg berakal.

Apa dan bagaimana bentuk dzikir yg senantiasa dilakukan oleh org” yg berakal..?

1. memilih Al Qur’an sebagai pedomannya: QS 39:18
2. mengambil pelajaran dari Al Qur’an (sebagai penjelasan dan peringatan kepada manusia):
QS 2:269, 3:7, 13:19-22,
14:52, 39:9
3. memilih yang baik: QS 5:100
4. memikirkan penciptaan alam: QS 3:190-191
5. takut kepada Allah dan takut pada adzab pada hari perhitungan: QS 13:19-22,
39:9
6. mendirikan shalat (termasuk shalat malam): QS13:19-22, 39:9
bershadaqah: QS 13:19-22
7. menolak kejahatan dgn kebaikan: QS 13:19-22
8. sabar mencari keridhaan Allah: QS 13:19-22
9. mengharap rahmat Allah: QS 39:9
10. Dan amal ibadah yg lain.

Kesimpulan dari pada Dzikir dgn berpedoman pada Alquran bahwasanya Penghayatan dan pengamalan Dzikir (Mengingat Allah) tdk hanya sekedar aktivitas Komat Kamit melafadzkan kalimah tertentu sendirian ditempat sepi atau berjama’ah didlm atau diluar masjid.

Akan tetapi lebih kepada bentuk
PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN
semua Perintah Allah yg tersirat maupun tersurat di dlm Alquran.

Baik itu shalat, zakat, maupun amal ibadah yg lain dgn niat Lillahi Ta’ala.

Pesanku
*Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. (QS. 75:16)
*Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. (QS. 75:17)
*Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (QS. 75:18)

Semoga allah meridhoi dan manfaat.

Wallahu’alam

Wassalamu’alaikum.

Indonesia – Sorah Ar-Rahman ( The Most Graciouse )

8 Juni 2011

Indonesia – Sorah Ar-Rahman ( The Most Graciouse ).

Kenikmatan dalam Menghadapi Musibah

27 April 2011

Kenikmatan dalam Menghadapi Musibah.

19 April 2011

DAKWAH SUNNAH, DENGAN PEMAHAMAN SALAFUS SHALIH.
AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir (Kiamat), hendaknya berkata baik atau diam.
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tetangganya.
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tamunya.”
(Shahih, HR. Bukhari dalam, kitab Al Adabul Mufrod, no. 6018, Muslim dalam kitab Al Iman, no. 37)
Dalam lafadz lain disebutkan,
“Perkataan yang baik adalah sedekah.”
(Shahih, HR. Bukhari, no. 2989, Muslim, no. 2332)

SMS DAKWAH

19 April 2011

DAKWAH SUNNAH, DENGAN PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH.
AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu berkata,

Saya mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketika aku dimi’rajkan aku bertemu dengan sekelompok orang yang kukunya terbuat dari tembaga lalu mereka mencakar muka dan dada mereka sendiri.

Maka beliau bertanya kepada Malaikat Jibril,

“Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”

Jibril berkata,

“Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (menggunjing/menghibah/menggosipkan) dan melanggar kehormatan orang lain.”

(HR. Abu Dawud, IV/269)

SMS DAKWAH

19 April 2011

DAKWAH SUNNAH, DENGAN PEMAHAMAN SALAFUS SHALIH.
AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Surga, maka beliau menjawab,

“Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.

Dan beliau juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka, maka beliau menjawab,

“Mulut dan kemaluan.”

(HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, no. 2004)

19 April 2011

DAKWAH SUNNAH, DENGAN PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH.
AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bacalah oleh kalian al-Qur’an karena ia (al-Qur’an) akan datang pada hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang (rajin) membacanya.”

(HR. Muslim no. 804)

SMS DAKWAH

19 April 2011

DAKWAH SUNNAH, DENGAN PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH.
AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”

(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam kabir, 20/174/386/486-487, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 4544)